
Bojonegoro – Sebanyak 225 guru madrasah dari jenjang MI, MTs, dan MA se-Kabupaten Bojonegoro mengikuti kegiatan Pelatihan Terapi Sholat Bahagia (PTSB) Batch 8 yang digelar pada Senin, 8 Desember 2025 di MA Negeri 1 Bojonegoro. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program GERAMM Gerakan KATA SIGURU yang diinisiasi oleh KKG-MGMP Rumpun PAI Provinsi Jawa Timur.
Pelatihan ini mengusung tema peningkatan integritas dan profesionalitas guru berbasis cinta, dengan tujuan memperkuat aspek spiritual, emosional, dan profesional pendidik madrasah dalam menjalankan tugasnya.
Dibuka Secara Khidmat
Acara dimulai dengan pembukaan resmi pada pukul 06.45 WIB, dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Kementerian Agama sebagai bentuk penghormatan terhadap bangsa dan institusi.
Pada kegiatan tersebut Kepala MAN 1 Bojonegoro bersama jajarannya menyambut dengan hangat kedatangan peserta kegiatan, Narasumber dan juga Kepala Kemenag Bojonegoro.
Dukungan Kuat dari Kemenag
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Tim Guru Bidang Pendis Kemenag Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Ngatijo Kusnanto, S.Ag., M.Si. yang sekaligus menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Ia menyampaikan bahwa PTSB merupakan salah satu strategi penguatan karakter guru agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan spiritual.
Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro, Dr. H. Amanullah, M.HI. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa guru madrasah adalah pilar utama pendidikan karakter bangsa, sehingga perlu terus mendapatkan penguatan ruhiyah dan kepribadian.
Testimoni dan Materi dari Narasumber Nasional
Suasana semakin hangat saat ditayangkan testimoni para peserta PTSB, yang menggambarkan dampak positif terapi sholat bahagia terhadap ketenangan jiwa, semangat mengajar, dan kualitas kehidupan pribadi mereka.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tayangan profil trainer dan penyampaian materi inti oleh narasumber utama, Prof. Dr. KH. Muhammad Ali Aziz, M.Ag., yang membawakan materi dengan pendekatan reflektif, aplikatif, dan menyentuh aspek psikospiritual peserta.
Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa sholat tidak hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai media terapi jiwa untuk membentuk guru yang sabar, ikhlas, tangguh, dan penuh cinta dalam mendidik.
Penutupan dan Serah Terima kepada Tim
Sebagai penutup rangkaian acara, pihak panitia berpamitan secara resmi, kemudian menyerahkan sepenuhnya kelanjutan kegiatan kepada narasumber dan tim pelatih untuk pendalaman materi dan sesi terapi lanjutan.
Kegiatan ini diharapkan mampu memberi dampak nyata dalam meningkatkan kualitas kepribadian guru madrasah di Kabupaten Bojonegoro, serta menjadi bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan pendidikan berbasis cinta, keteladanan, dan ketulusan. (Humas)

Tinggalkan Balasan